Rel Yang Tak Sama
Rel Yang Tak Sama
Karya Desi Lara Safitri
Tepat satu tahun di hari ini, aku kehilangan dia, yaa dia seseorang yang telah berhasil merubah segala pola pikir ku yang kekanak-kanakan menjadi seorang perempuan yang mempunyai karakter kuat sebagai seorang perempuan. Rasanya ya memang hampa tanpa kehadirannya yang selalu menemani entah untuk sekedar bertukar cerita.
Ohya, hampir saja lupa, perkenalkan nama ku Aldania Putri, panggil saja aku dengan sebutan Alda. Seorang gadis berhijab yang saat ini sedang menempuh pendidikan di salah satu kampus terbaik impian ku sejak masih SMP.
Sesaat pikiran ku tiba-tiba melayang sambil duduk santai di taman kampus dengan bibir tersenyum simpul saat teringat dengan ia yang ku anggap kebahagiaan.
"Pancaran Mata mu yang indah mampu memberikan banyak inspirasi bermusik bagi ku" tutur Andre sore itu, ingatku sambil menyaksikan matahari terbenam dengan keindahannya yang menenangkan bersamanya.
Andre! yaa tokoh yang memang tak bisa ku lupakan hingga saat ini. Banyak sekali cerita menarik di hidupnya. Semua tempat, jalan, bahkan cerita yang telah kamu ataupun aku ceritakan bersama terekam jelas di memori otakku sampai detik aku menulis cerita ini.
"Daaa... betah banget ngelamunnya, hehe" ucap sahabatku Syifa menepuk pundak ku dari belakang.
"Ngelamunin tugas, kalo ngelamunin dia emang boleh?" Canda ku pada Syifa
"Yaelah kau ni ya, yuk buru pulang-pulang"
"Hayuklah".
Pagi ini Aku masih santai berdiri depan cermin pojok di kamar ku dengan tersenyum tipis merapikan pashmina merah maroon ku. Mataku melirik jam tangan kesayangan ku yang telah menunjukkan pukul 07.00 yang menandakan aku harus segera bergegas ke kampus.
"Duhh aku harus segera ke kampus nih biar nggak telat masuk kelas" ucapku buru-buru sambil mencari handphone.
"Sarapan dulu Daaa" panggil ibu ku yang tengah menyediakan sarapan untuk Ayah dan kakakku.
"Alda langsung ke kampus ya buk sudah telat, Assalamualaikum"
"Kebiasaan anak ini, Waalaikumssalam hati-hati"
Hampir setengah jam berlalu, aku berjalan santai di lorong kampus dan tak sengaja mataku melihat seseorang yang memang tak asing, Andre!!
Iya, dia Andre seseorang yang aku temui pertama kali satu tahun lalu tepat di parkiran kampus siang itu. Tak ada sepatah kata pun yang aku ataupun dia ucapkan. Asing adalah kata yang tepat bagiku dan dia saat ini. Tapi sudahlah jalan kita memang berbeda kali ini.
"Huhh... Tak terasa waktu terus berjalan begitu cepat ya" ucapku sambil melihat bayangan Andre yang perlahan-lahan menghilang dari balik tembok laboratorium. Pikiranku pun teringat pada kejadian di Pura Lingsar saat Malam Keakraban itu. Saat itu aku memang sudah tahu tentang perasaan Andre padaku, namun aku belum bisa memberikan jawaban pasti karena keinginan orang tua ku untuk fokus belajar terlebih dahulu.
Namun aku sama sekali tak menyangka ditengah dinginnya angin malam Pura Lingsar pukul 02.10 Wita, Ni Wayan Tira Maharani, seorang selebgram cantik yang pasti banyak menjadi incaran para lelaki tampan. Seolah-olah tidak bisa menahan rasa sukanya pada Andre. Ni Wayan Tira Maharani menyatakan perasaannya kepada Andre secara terang-terangan di depan para alumni, teman-teman, bahkan kakak tingkat.
"Pura Lingsar, yaaa Pura Lingsar" ucapku dalam lamunan. Tempat yang dipercaya oleh masyarakat sebagai tempat yang sakral tersebut menjadi saksi keberanian Tira untuk mengatakan perasaannya untuk Andre.
Dan apa? Jawaban yang diberikan Andre seakan-akan memberikan kejutan untuk ku saat itu karena Andre yang ku kira lelaki baik yang mengedepankan iman, akhlak, dan taat agama bisa menerima Tira yang notabennya adalah seorang perempuan yang memeluk agama Hindu, yaa mungkin sudah bisa ditebak dari namanya saja sudah bisa memberikan jawaban pasti.
Semua yang tengah berada di lingkaran api unggun tersebut tersenyum sumringah dan bertepuk tangan gembira. Berbeda dengan diriku yang seakan-akan ingin berteriak sekencang kencangnya mengeluarkan keganjalan hati ini.
Jujur saja aku seperti disambar petir begitu mendengar jawaban Andre yang membuat dada ku benar-benar sesak dan terdiam seketika. Mataku secara tidak sadar menitikkan air mata yang segera ku hapus dengan senyum terpaksa disudut bibirku serta kebencian yang mendera diriku. Aku tak tahu rasa apakah yang aku rasakan saat ini?
Saat aku mulai melihat sisi baik dari Andre dan mulai menerimanya, malah ia sekarang bersama perempuan lain yang seamin tapi tak seiman dengannya.
Mungkin inilah rel yang kita jalani sekarang sudah berbeda jauh. Rel bagaikan jalan hidup yang kita jalani. Jika rel kita sudah jauh berbeda seperti ini, mungkin aku hanya berdoa pada Tuhan semoga kita yang seiman dan seamin bisa disatukan lagi. Semoga kau kembali dan lihat siapa yang ingin kau benar-benar ada disini.
Hanya satu harapanku jika aku tidak bisa lagi bersamamu, aku hanya ingin bertegur sapa denganmu seperti awal bertemu hingga kita bisa melihat siapa yang lebih dewasa dan kuat dalam hidup. Seperti pelajaran-pelajaran hidup yang kau berikan padaku.
bagus"
BalasHapusBaper boleh gak sini?? :'(
BalasHapusPart II doooooong
Menyusul part II :)
HapusCerpennya bagus 👍
BalasHapusKeren👍
BalasHapusBagus²:)
BalasHapusWah bagus👍
BalasHapusKeren..
BalasHapusKerennn ❤️
BalasHapusKerennnn❤️❤️❤️
BalasHapusYuhuu💜
BalasHapusWaahh kereenn
BalasHapusWah bagus👍
BalasHapus